Rabu, 02 Desember 2015

DARAH

• KARAKTERISTIK DARAH
Darah adalah sejenis jaringan ikat yang sel-selnya (elemen pembentuknya) tertahan dan berada dalam matriks cairan (plasma). Darah lebih berat dan lebih kental dari pada air yaitu memiliki berat jenis 1,041-1,067 dengan temperatur 380C dan PH 7,37-7,45. Warna darah bervariasi dari merah terang sampai merah tua kebiruan, tergantung pada kadar oksigen yang di bawa sel darah merah. Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45% sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah pada tubuh orang dewasa sebanyak kira-kira 1/13 dari berat badan atau sekitar 4-5 liter. Jumlah darah tersebut pada setiap orang berbeda-beda. Tergantung kepada umur, ukuran tubuh, dan berbanding terbalik dengan jumlah jaringan adiposa pada tubuh.

• FUNGSI DARAH
1. Sebagai alat pengangkut yaitu :
a) Mengambil O2 dari paru-paru untuk diedarkan keseluruh jaringan tubuh
b) Mengangkat CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru
c) Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan dan di bagikan keseluruh jaringan tubuh
d) Mengangkat atau mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit atau ginjal.

2. Sebagai pertahanan tubuh terhadap serangan bibit penyakit dan racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantara leukosit, antibody atau zat-zat anti racun.

3. Mengatur dan mengontrol temperature tubuh

4. Menutup luka.


• KOMPOSISI DARAH
1. Air : 91%
2. Protein : 3% (albumin, globulin, protombin, dan fibrinogen)
3. Mineral : 0,9% (natrium klorida, natrium bikarbonat, garam fosfat, magnesium, kalsium, dan zat besi)
4. Bahan organic :0,1% (glukosa, lemak, asam urat, kreatinin, kolesterol dan asam amino)


• BAGIAN-BAGIAN DARAH
1. PLASMA DARAH
Plasma darah adalah komponen terbesar dalam darah. Fungsi plasma darah adalah Mengangkut sari makanan ke sel-sel serta membawa sisa pembakaran dari sel ke tempat pembuangan. Dan menghasilkan zat kekebalan tubuh terhadap penyakit atau zat antibody.
Plasma darah terdiri dari :
• Air : 91%
• Protein plasma darah : 7%
• Komponen lainya
0,9%  Asam amino, lemak, glukosa, urea, garam,
0,1%  Hormon, antibody.


• Protein plasma
Mencapai 7% dari plasma dan merupakan satu-satunya unsur pokok plasma yang tidak dapat menembus membran kapilar untuk mencapai sel. Ada tiga jenis protein plasma yang utama :
a. Albumin adalah protein yang terbanyak, sekitar 55%-60%, tetapi ukurannya paling kecil. Albumin di sintesis dalam hati dan bertanggung jawab untuk tekanan osmotik koloid darah.

b. Globulin membentuk sekitar 30% protein plasma.
 Alfa dan beta globulin disintesis di hati, dengan fungsi utama sebagai molekul pembawa lipid, beberapa hormone, berbagai subtrat, dan zat penting lainnya.
 Gamma globulin (immunoglobulin) fungsi utama berperan sebagai antibody. 

c. Fibrinogen membentuk sekitar 4% protein plasma, disintesis di hati dan merupakan komponen esensial dalam mekanisme pembekuan darah.


2. ERITROSIT atau SEL DARAH MERAH
Eritrosit atau sel darah merah merupakan jenis sel darah yang paling banyak sekitar 99% dari sel darah. Bagian dalam eritrosit terdiri dari hemoglobin, sebuah biomolekul yang dapat mengikat oksigen. Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru-paru, dan oksigen akan dilepaskan saat eritrosit melewati pembuluh kapiler. Di dalam sel darah merah mengandung sekitar 300 juta molekul haemoglobin. Warna merah dari sel darah merah sendiri berasal dari warna hemoglobin yang unsur pembuatnya adalah zat besi. Pada manusia, sel darah merah dibuat di sumsum tulang belakang, lalu membentuk kepingan bikonkaf. Di dalam sel darah merah tidak terdapat nukleus. Sel darah merah sendiri aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan

fungsi sel darah merah atau eritrosit adalah:
a. Sel-sel darah merah mentransfer oksigen ke seluruh jaringan melalui pengikatan hemoglobin terhadap oksigen.
b. mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui paru–paru.
c. Sel darah merah berperan penting dalam pengaturan PH darah karena ion bikarbonat dan haemoglobin merupakan buffer asam-basa.
d. Pengatur suhu tubuh

Jumlah sel darah :
a. Jumlah sel darah merah pada laki-laki sehat berukuran rata-rata adalah4,2 sampai 5,2 juta sel per milimeter kubik (mm3).
b. Pada perempuan sehat rata-rata, jumlah sel darah merahnya antara 3,2 sampai 5,2 juta sel per mm3.

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru.

Kadar normal hemoglobin
Kadar hemoglobin menggunakan satuan gram/dl. Yang artinya banyaknya gram hemoglobin dalam 100 mililiter darah.

Nilai normal hemoglobin tergantung dari umur pasin :
 Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl
 Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl
 Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl
 Anak anak : 11-13 gram/dl
 Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl
 Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl
 Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl
 Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl

3. LEUKOSIT atau SEL DARAH PUTIH
Leukosit atau sel darah putih tidak berwarna, memiliki inti, dapat bergerak secara amoebeid, dan dapat menembus dinding kapiler / diapedesis. Dalam keadaan normalnya terkandung 4x109 hingga 11x109 sel darah putih di dalam seliter darah manusia dewasa yang sehat - sekitar 7000-25000 sel per tetes. Dalam setiap milimeter kubil darah terdapat 6000 sampai 10000(rata-rata 8000) sel darah putih.

Leukosit berfungsi sebagai:
a. pertahanan tubuh yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit / bakteri yang masuk ke dalam jaringan RES (sistem retikuloendotel), tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe;
b. sebagai pengangkut yaitu mengangkut / membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke pembuluh darah.
Sel leukosit disamping berada di dalam pembuluh darah juga terdapat di seluruh jaringan tubuh manusia. Pada kebanyakan penyakit disebabkan oleh masuknya kuman / infeksi maka jumlah leukosit yang ada di dalam darah akan lebih banyak dari biasanya. Hal ini disebabkan sel leukosit yang biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe, sekarang beredar dalam darah untuk mempertahankan tubuh dari serangan penyakit tersebut.
Klasifikasi leukosit. Ada lima jenis leukosit dalam sirkulasi darah, yang di bedakan berdasarkan ukuran, bentuk nukleus, dan ada tidaknya granula sitoplasma. Sel yang mempunyai granula sitoplasma disebut granulosit, dan sel yang tidak mempunyai granula disebut agranulosit.

A. Granulosit merupakan Sel yang mempunyai granula sitoplasma

B. Agranulosit merupakan sel yang tidak mempunyai granula didalamnya.
.


4. KEPING DARAH atau TROMBOSIT
Kepingan darah atau trombosit berjumlah 250.000 sampai 400.000 per mm3. Bagian ini merupakan fragmen sel tanpa nucleus yang berasal dari megakariosit raksasa multinukleus dalam sumsum tulang. Trombosit berfungsi dalam hemostasis (penghentian pendarahan) dan perbaikan pembuluh darah yang robek. Jika banyaknya kurang dari normal, maka kalau ada luka darah tidak lekas membeku sehingga timbul pendarahan yang terus- menerus. 

Di dalam plasma darah terdapat suatu zat yang turut membantu terjadinya peristiwa pembekuan darah, yaitu Ca2+ dan fibrinogen. Fibrinogen mulai bekerja apabila tubuh mendapat luka. ketika kita luka maka darah akan keluar, trombosit pecah dan mengeluarkan zat yang dinamakan trombokinase. Trombokinasi ini akan bertemu dengan protrombin dengan pertolongan Ca2+ akan menjadi trombin. Trombin akan bertemu dengan fibrin yang merupakan benang-benang halus, bentuk jaringan yang tidak teratur letaknya, yang akan menahan sel darah, dengan demikian terjadilah pembekuan. Protrombin di buat di dalam hati dan untuk membuatnya diperlukan vitamin K, dengan demikian vitamin K penting untuk pembekuan darah.


Eritroposis
Pembentukan sel darah merah (eritroposis) adalah subyek pengaturan “feedback”. Eritroposis diatur oleh suatu hormone glikoprotein yang beredar yang dinamakan eritropoeitin yang dibentuk oleh kerja dari faktor ginjal pada globulin plasma. Hormone ini mempermudah diferensiasi sistem sel menjadi proeritroblast. Kerapuhan sel darah merah.

Faktor penghambat pembentukan eritroposis adalah kenaikan sel darah merah dalam sirkulasi yang mencapai nilai diatas normal sedangkan pembentukan eritroposis dirangsang oleh anemia, hipoksia, dan kenaikan jumlah sel darah merah yang beredar adalah gambaran yang menonjol dari aklimanisasi pada dataran tinggi.

Sel-sel darah merah, seperti sel-sel lainnya , mengkerut dalam larutan dengan tekanan osmotic yang lebih tinggi dari tekanan osmotik plasma. Pada larutan yang tekanan osmotiknya lebih rendah sel darah merah akan membengkak, menjadi cembung dan kemudian kehilangan hemoglobinnya (hemolisis). Haemoglobin eritrosit yang hemolisis larut dalam plasma, member warna merah pada plasma. Bila kerapuhan osmotiknya normal, sel darah merah mulai hemolisis bila dimasukkan dalam larutan NaCl 0,48% dan pada larutan NaCl 0,33% hemolisis adalah sempurna. Pada sferositosis herediterb(ikterus hemolitik congenital) sel-sel adalah sferositik dalam plasma normal dan lebih banyak terjadi hemolisis daripada sel-sel normal pada larutan natrium khlorida hipotonik (kerapuhan sel darah merah abnormal)

Sel darah merah juga dapat dilisiskan oleh obat-obatan dan infeksi. Mudahnya hemolisis sel darah merah terhadap zat-zat ini meningkat pada defisiensi enzim glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PD) , yaitu enzim yang mengkatalisis langkah permulaan oksidasi glukosa melalui heksosa monofosfat shunt. Jalan ini menghasilkan NAPDH, yang diperlukan pada beberapa jalan untuk memperahankan kerapuhan sel darah merah. Defisiensi aktivasi G6DP congenital dalam sel darah merah disebabkan adanya variant-variant enzim sering terjadi. Sebenarnya defisiensi G6DP adalah abnormalitas enzim yang secara genetik paling sering ditemukan pada manusia. Lebih dari 80 variant genetik G6DP telah ditemukan, 40 diantaranya tidak menyebabkan penurunan aktivitas enzim yang banyak, tetapi lainnya menyebabkan penurunan aktivitas dan peningkatan sensitivitas terhadap zat-zat hemolitik dan anemia hemolitik. Defisiensi G6DP yang berat juga menghambat daya bunuh granulosit terhadap bakteri dan merupakan predisposial terhadap infeksi berat.

Sistem Imun
System imun adalah suatu system kompleks yang memberikan respon imun (humoral dan selular) untuk menghadapi agens asing spesifikasi seperti bakteri, virus, toksian atau zat lain yang oleh tubuh dianggap “bukan bagian diri.” Sedangkan, Imunitas adalah mekanisme /kemampuan tubuh menahan atau mengeliminasi benda asing /sel abnormal yang potensial berbahaya bagi tubuh

Fungsi:
1.Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit: menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur dan virus serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh.
2. Menghilangkan jaringan atau sel yang mati atau rusak (debris sel) untuk perbaiakan jaringan.
3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal.

• Aktifitas yang berkaitan dengan sistem pertahanan :
1. Pertahanan terhadap patogen penginvasi
2. Pengeluaran sel sel yang aus, debris jaringan
3. Identifikasi dan destruksi sel abnormal / mutan yang berasal dari tubuh sendiri surveilans imun
4. Respon imun yang tidak sesuai yang menimbulkan alergi
5. Penolakan sel sel jaringan asing  transplantasi organ

Sasaran utama sistem imun:
1. Bakteri
mikroorganisme sel tunggal, tidak berinti dan memiliki perangkat essensial untuk hidup dan berproduksi
2. Virus
DNA / RNA yang terbungkus selubung protein.

Leukosit terdiri dari :
1. Neutrofil
Sel fagositik yang dapat memakan dan menghancurkan bahan bahan yang tidak perlu
2. Eosinofil
Mengeluarkan zat zat kimiawi yang menghancurkan cacing parasit dan berperan dalam manifestasi alergi
3. Limfosit
a. Limfosit B
Berubah menjadi sel plasma yang mengeluarkan antibodi yang secara tidak langsung menyebabkan destruksi zat asing.
b. Limfosit T
Berperan dalam imunitas selular dengan destruksi langsung melalui cara nonfagosit
4. Monosit
Berubah menjadi makrofag. Semua leukosit berasal dari sumsum tulang kecuali limfosit
Limfosit : dari jaringan limfoid
Jaringan Limfoid mencakup :
Kel. Limfe, limpa, timus, tonsil, adenoid, apendiks, bercak peyer (GALT)
Respon Imun ::

• Respon Imun Non Spesifik
1. Peradangan : Cedera jaringan, yang berperan : fagositik, neutrofil dan makrofag
2. Interferon : protein yang menjaga tubuh dari Infeksi virus
3. Sel NK: Infeksi virus dan sel kanker
4. Sistem komplemen : Dapat diaktifkan oleh benda asing dan antibodi
• Respon Imun Spesifik
1. Imunitas yang diperantarai oleh AB turunan limfosit B
2. Imunitas yang diperantarai oleh sel limfosit T
• Antibodi mengidentifikasi zat asing dan meningkatkan aktivitas
berbagai sistem pertahanan melalui :
1. Pengaktifan sistem komplemen
2. Peningkatan fagositosis
3. Stimulasi sel pembunuh.

Tipe system imun
Tubuh mempunyai 2 sistem dasar pertahanan imun, yaitu humorol dan seluler. Keduanya bereaksi dengan antigen, biasanya protein yang asing bagi tubuh seperti, bakteri atau jaringan asing. Imunitas humoral adalah imunitas yang disebabkan antibodi yang beredar dalam fraksi gama-globulin protein plasma, merupakan pertahanan pertama terhadap infeksi bakteri. Imunitas seluler merupakan penyusun pertahanan utama terhadap infeksi yang disebabkan virus, jamur, dan beberapa bakteri seperti basil tuberculosis.
Perkembangan Sistem Imun
Selama perkembangan fetus, prekursor limfosit yang mendiami timus diubah oleh lingkungan dalam organ tersebut menjadi limfosit yang bertanggung jawab untuk imunitas seluler (limfosit –T).


Golongan darah Manusia

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian. Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibody yang terkandung dalam darahnya sebagai berikut :

• Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan
membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.

• Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya
dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.

• Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesame AB-positif.


• Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi
antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesame O-negatif.

Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia, meskipun dibeberapa negara seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia. Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Rhesus
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 50% populasi dengan golongan darah B

Kecocokan Faktor
Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat mempengaruhi janin pada saat kehamilan.

KELENJAR ENDOKRIN

Fungsi tubuh diatur oleh dua system pengatur utama yaitu system saraf dan system endokrin . Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan . Kelenjar endokrin ini disebut juga kelenjar buntu karena hormon yang dihasilkan tidak dialirkan melalui suatu saluran tetapi langsung masuk kedalam pembuluh darah. Hormon dari kelenjar endokrin mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh hingga mencapai organ – organ tertentu. Hormon umum disekresi oleh kelenjar endokrin spesifik dan ditranspor dalam darah untuk menyebabkan kerja fisiologia pada tempat-tempat yang jauh dalam tubuh. Hormon umum tersebut contohnya adalah hormone pertumbuhan dari adenohipofisis dan hormone tiroid dari kelenjar tiroid.

Fungsi kelenjar endokrin secara umum yaitu :
* Menghasilkan hormone yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu
* Mengontrol aktivitas kelenjar tubuh
* Merangsang aktivitas kelenjar tubuh
* Merangsang pertumbuhan jaringan
* Mengatur metabolisme, oksidasi , meningkatkan absorpsi glukosa pada usus halus
* Mempengaruhi metabolisme lemak, protein , hidratarang, vitamin, mineral dan air.

Dilihat dari aktivitasnya, kelenjar endokrin dapat dibedakan menjadi :
1. kelenjar yang bekerja sepanjang hayat, misalnya hormon yang memegang peranan pada proses metabolisme
2. kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu, misalnya hormon kelamin
3. kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja, misalnya kelenjar timus

Dilihat dari aspek dan macam lokasinya, kelenjar endokrin dapat dibedakan menjadi :

 




FISIOLOGI KELENJAR HIPOFISIS

Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar yang paling banyak menghasilkan hormone. Kelenjar hipofisis disebut master gland ( kelenjar induk / kelenjar ibu), karena kelenjar Hipofisis ini terletak pada lekukan tulang selatursika di bagian tulang baji dan menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Kelenjar hipofisis ini merupakan pembantu hipotalamus, hipofisis menyampaikan informasi tentang keadaan tubuh ke hipotalamus. Kemudian hipofisis juga menyampaikan keputusan yang telah diambil hipotalamus kepada seluruh tubuh. Misalnya, ketika terjadi penurunan tekanan darah, informasi dikirimkan, dan mengabari hipotalamus tentang perubahan tekanan ini, lalu hipotalamus memutuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk menaikkannya

Kelenjar hipofisis menghasilkan beberapa jenis hormone yang mengendalikan organ-organ lain. Fungsi kelenjar hipofisis diatur oleh susunan saraf melalui hipotalamus. Pengaturan dilakukan oleh sejumlah hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus akibat rangsangan susunan saraf pusat. Hormon yang mengatur fungsi hiposisis dihasilkan oleh sel-sel neuro sekretoris yang terdapat didalam hipotalamus, sedangkan pengaturan hipofisis oleh susunan saraf pusat dilakukan melalui mekanisme humoral melalui pembuluh darah.

Bagian-bagian kelenjar hipofisis :

1. Kelenjar Hipofisis anterior ( adeno hipofisis)
Kelenjar hipofisis anterior mengandung banyak jenis sel sekretorik.
Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormon yang dihasilkan diantaranya yaitu:

a) Hormon Pertumbuhan(hormon somatotropin)
Fungsi Hormon Pertumbuhan yaitu :
* menyebabkan pertumbuhan seluruh jaringan tubuh , dan menambah ukuran sel
* Meningkatkan proses mitosis yang diikuti dengan bertambahnya jumlah sel
* Meningkatkan kecepatan sintesis protein diseluruh tubuh
* Meningkatkan metabolisme asam lemak dari jaringan adiposa
* Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa didalam tubuh.

Dalam waktu beberapa menit kecepatan sekresi hormon pertumbuhan akan meningkat dan menurun terutama yang berkaitan dengan stress dan keadaan nutrisi , (misalnya , kelaparan dan hipoglikemi, ketegangan, dan trauma ). Kadar hormon akan meningkat jika seseorang dalam keadaan berolahraga . Pengaturan sekresi hormon pertumbuhan dilakukan dengan keseimbangan dan lebih banyak disekresi oleh hipotalamus.

b) Hormon Kortikotropika atau Cotikotropik Releasing Factror (CRF)
Hormon ini merupakan polipeptida dengan berat molekul 1000-1500, yang didapatkan pada serebrum, serebelum dan talamus. Pada keadaan stres , konsentrasi CRF dalam hipotalamus menurun dan pemberian kortison menyebabkan CRF terhadap reaksi adeno cortiko tropicx hormone (ACTH) oleh hipofisis terlambat dan mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme glukosa, protein dan lemak.

c) Hormon Tirotropin atau Thirotropin Releasing Factror (TRF)
Berfungsi untuk merangsang sekresi TRH dan merupakan mekanisme untuk dapat menghasilkan hormon dengan melakukan sintesis protein. Hormon somatotropin juga dapat menghambat kerja TRF. Akibat hambatan ini, Triroid Stimulating Hormone ( TSH ) tidak dapat disekresikan. Efek TRF terhadap perilaku ini diperkirakan akan mempengaruhi sel-sel saraf terhadap sintesis serta penguraian zat yang dihasilkan oleh saraf itu.

d) Hormon Gonadotropin atau Gonadotropin Releasing Factor (GnRF)
Hormon ini mempunyai daya kerja yaitu merangsang sekresi Folikel Stimuling Hormon (FSH) dan Luteinizing Hormone ( LH ) agar mampu menghasilkan hormon gonad ( estrogen dan progesteron) . Pada seorang wanita, pemberian progesteron dalam jangka pendek mempunyai efek menurunkan respons hormon gonadotropin terhadap rangsangan GnRF dan bila diberikan dalam jangka panjang akan meningkatkan rangsangan GnRF . Bila estrogen diberikan pada laki-laki akan terlihat gejala-gejala respons gonadotropin terhadap GnRF menurun, sebaliknya jika testoteron yang diberikan akan menghambat respons gonadotropin terhadap GnRF .

* Lutein Hormone : sel-selnya berbentuk angular dan terdapat diseluroh hipofisis , mengandung sekretori granules dan hormon stimulating untuk merangsang perkembangan folikel de Graf dalam ovarium dan membentuk spermatozoa pada testis untuk merangsang gametosis laki-laki.

* Folikel Stimulating Hormon : mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium , mempengaruhi luteinisial pada wanita dan pada laki-laki disebut sebagai Interstisial Cel Stimulating Hormon ( ICSH) yang mempengaruhi produksi testoteron dalam testis.
* Prolaktin hormon : mempertahankan laktasi dengan mempengaruhi langsung pada kelenjar-kelenjar susu.
* Melanosit stimulating hormon : mempengaruhi melanosit dalam kulit.

2. Kelenjar Hipofisis Posterior (neurohipofisis)
Sel – sel pada kelenjar ini disebut dengan pituisit yang bekerja sebagai struktur penunjang bagi ujung-ujung saraf. Hormon ini disintesis dalam badan sel, selanjutnya bergabung dengan protein pembawa untuk mencapai kelenjar yang membutuhkan . Hormon yang dihasilkan pada Hipofisis posterior adalah

· Hormon anti diuretik (ADH) :

Dibentuk dalam nukleus supraoptik dan mengandung asam amino. Mekanisme kerja ADH adalah meningkatkan permeabilitas duktus untuk mereabsorpsi sebagian besar air yang disimpan dalam tubuh dan mempengaruhi difusi bebas air dari tubulus cairan tubuh kemudian diabsorpsi secara osmosis.

o Pengaturan produksi ADH

Bila cairan ekstraseluler pekat , maka cairan ditarik dengan proses osmosis keluar dari sel osmoreseptor sehingga mengurangi ukuran sel dan menimbulkan sinyal saraf dalam hipotalamus untuk menyekresi ADH tambahan . Sebaliknya, bila cairan ekstraseluler terlalu ancer , maka air bergerak melalui osmosis dengan arah berlawanan masuk ke dalam sel. Keadaan ini akan menurunkan sinyal saraf untuk menurunkan sekresi ADH.

Salah satu rangsangan yang menyebabkan sekresi ADH menjadi kuat adalah penurunan volume darah. Keadaan ini terjadi secara hebat saat volume darah turun 15-25% dengan kecepatan sekresi meningkat 50x dari keadaan normal. Peranan penting dalam proses pembentukan laktasi adalah menyebabkan timbulnya pengiriman air susu dari alvioli ke duktus sehingga dapat dihisap oleh bayi.

· Oksitosin

Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat akhir masa kehamilan.

3. Kelenjar Hipofisis Intermediet

Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, pada manusia hampir tidak ada sedangkan pada beberapa jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih berfungsi.

Hormon yang dihasilkan intermediet hipofisis

Mekanisme Kerja ACTH (kortikotropin)

Tahapan dari mekanisme kerja ACTH (kortikotropin) adalah :
1. ACTH adalah produk dari proses pasca translasi prekursor polipeptida Pro-Opiomelanokortin, Organ target ACTH adalah korteks adrenal tempat kortikotropin terikat.

2. Setelah di korteks adrenal, ACTH akan memacu perubahan Kolesterol menjadi pregnolon.

3. Kemudian dari pregnolon dihasilkanlah adrenokortikosteroid dan androgen adrenal.

4. Dimana fungsi kortisol adalah kerja antiinflamasi, meningkatkan glukoneogenesis, meningkatkan penghancuran protein, Mobilitas lemak, Mobilitas protein, Stabilisasi lisosom

Hubungan Hipofisis dan Hipotalamus

* Sistem portal hipotalamus dan hipofisis

1. suplai darah ke lobus posterior ( neurohipofisis ) terjadi melalui dua arteri hipofisis interior, yang merupakan cabang arteri karotis internal, kemudian memasuki lobus posterior dan membentuk jaring-jaring kapilar. Aliran vena mengalir melalui vena hipofisis kedalam sinus dural.

2. suplai darah ke lobus anterior adalah tidak langsung. Arteri hipofisis superior (cabang arteri karotis internal) memasuki bagian tengah tonjolan hipotalamus dan batang infundibulum sehingga membentuk jaring-jaring kapilar pertama.

3. jaring kapilar pertama dialiri vena potal hipofisis , yang menjadi awal jaring kapilar kedua di bagian bawah lobus anterior

4. sistem portal hipotalamus dan hipofisis mengacu pada kedua jaring kapilar diatas ( satu di hipotalamus dan satu lagi dalam adenohipofisis ) dan vena yang terletak diantara keduanya. Melalui sistem ini, hormon yang diproduksi di hipotalamus langsung dibawa ke adenohipofisis tanpa memasuki sirkulasi darah besar.

Pengaturan Sekresi Hipofisis oleh Hipotalamus

Sekresi hipofisis posterior diatur oleh serabut saraf yang berasal pada hipotalamus dan berakhir pada hipofisis posterior . Sebaliknya sekresi hipofisis anterior diatur oleh hormon yang dinamakan “ releasing” dan “ inhibitory hormones” yang di sekresi oleh hipotalamus sendiri dan kemudian dihantarkan ke hipofisis anterior melalui pembuluh darah kecil yang dinamakan portal hipotalamik-hipofisial. Pada hipofisis anterior releasing dan inhibitory ini bekerja pada sel kelenjar untuk mengatur sekresinya.

Hipotalamus merupakan pusat himpunan informasi dan selanjutnya sebagian besar informasi ini digunakan untuk mengatur sekresi kelenjar hipofisis.

Contohnya : bila seseorang menderita nyeri , sebagian isyarat nyeri dihantarkan ke hipotalamus. Hal yang sama , bila seseorang mengalami pikiran yang sangat menekan atau merangsang, sebagian isyarat dihantarkan ke hipotalamus. Kemudian pada , rangsang penciuman yang menyatakan bau yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, menghantarkan komponen isyarat yang kuat melalui nuklei amigdala ke hipotalamus.

Hubungan Hipofisis anterior dengan Hipotalamus

1. Sekresi hormon pelepas hipothalamus dan hormon penghambat ke eminensia mediana.
Neuron-neuron khusus di dalam hypothalamus mensintesis dan mensekresi hormone pelepas hypothalamus dan hormone penghambat yang mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Neuron –neuron ini berasal dari berbagai bagian hypothalamus dan mengirimkan serat – serat sarafnya menuju ke eminensia mediana dan tuber sinerum (jaringan hypothalamus yang menyebar menuju tangkai hipofisis). Bagian ujung serat – serat saraf ini berbeda dengan ujung- ujung serat saraf umum yang ada di dalam sistem saraf pusat. Dimana fungsi serat ini tidak menghantarkan sinyal – sinyal yang berasal dari neuron ke neuron yang melainkan hanya mensekresi hormone pelepas dan hormone penghambat hypothalamus saja ke dalam cairan jaringan. Hormon-hormon ini segera diabsorbsi ke dalam kapiler sistem porta hypothalamus dan hipofisis dan langsung diangkut ke kelenjar hipofisis anterior.

2. Fungsi hormon pelepas dan hormon penghambat dalam hipofisis anterior.
Hormone –hormon pelepas dan hormone – hormone penghambat berfungsi mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Hormone – hormone pelepas dan penghambat hypothalamus yang terpenting adalah :

• TRH : hormone pelepas tiroid yang menyebabkab pelepasan hormone perangsang tiroid.
• Hormone pelepas kortikotropin(CRH) : menyebabkan pelepasan adenokortikotropin.
• Hormone pelepas hormone pertumbuhan (GHRH) : menyebabkan pelepasan hormone pertumbuhan dan hormone penghambat hormone pertumbuhan (GHIH) yang mirip dengan hormone somatostatin dan menghambat pelepasan hormone pertumbuhan.
• Hormone pelepas gonadotropin(GnRH) : menyebabkan pelepasan dari dua hormone gonadotropik, hormone lutein dan hormone perangsang folikel.
• Hormone penghambat prolaktin (PIH) : menghambat sekresi prolaktin.

3. Daerah –daerah spesifik dalam hipothalamus yang mengatur sekresi faktor pelepas dan faktor penghambat hipothalamus
Sebelum diangkut ke kelenjar hipofisis anterior , semua hormone hypothalamus disekresi ke ujung serat saraf yang terletak di dalam eminensia mediana. Perangsangan listrik pada daerah ini merangsang ujung- ujung saraf, oleh karena itu pada dasarnya menyebabkan pelepasan semua hormone hypothalamus. Akan tetapi badan sel neuron yang menyebar ke eminensia mediana ini terletak pada daerah yang berdekatan dengan bagian basal otak.

4. Hubungan Saraf
Lobus anterior tidak memiliki hubungan syaraf langsung dengan hipotalamus. Hormon hipofisis anterior juga dilepas berdasarkan sinyal dari hipotalamus, tetapi melalui hubungan vaskular.

Hubungan Hipofisis Posterior dengan Hipotalamus

Kelenjar hipofisis posterior juga dinamakan neurohipofisis terutama terdiri atas sel – sel seperti sel glia yang dinamakan pitulsit. Pitulsit tidak menyekresi hormon , mereka bekerja sebagai struktur penyokong untuk serabut saraf terminal yang jumlahnya banyak dan ujung-ujung saraf terminal dari traktus saraf yang berasal dari nuklei supraoptikus dan paraventrikum hipotalamus . Ujung-ujung saraf merupakan tombol bulosa yang terletak pada permukaan kapiler, tempat mereka menyekresi hormon hipofisis posterior yaitu hormon ADH dan hormon oksitosin . ADH dibentuk pada nuklei supraoptikus , sedangkan oksitosin dibentuk pada nuklei paraventrikularis. Dalam keadaan istirahat , sejumlah ADH dan oksitosin terkumpul pada ujung-ujung saraf kelenjar hipofisis posterior . Kemudian bila impuls saraf dihantarkan kebawah sepanjang serabut – serabut dari nuklei supraoptikus dan paraventrkulus , hormon segera dikeluarkan dari ujung-ujung saraf dan diabsorpsi masuk ke kapiler yang berdekatan.

*Hubungan saraf

1. lobus posterior diinervasi langsung oleh neuron nukleus supraoptik dan nukleus paraventrikular dalam hipotalamus. Aksonnya memanjang menuruni batang infundibulum sebagai traktus saraf hipofisis dan hipotalamus untuk masuk ke neuron hipofisis

KELENJAR PARATIROID (parathyroid gland)

Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah.Bentuknya oval, berwarna kuning kecoklatan.Panjang ± 5mm dan tebal 2 mm.Kendati letaknya dekat dengan kelenjar tiroid,lokasi ini sangat bervariasi tergantung pertumbuhannya secara embriologis. Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar ini menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh

Kelenjar paratiroid tersusun oleh 3 macam sel,yaitu : chief cells,clear cells,dan oxyphil cells.Chief cells bertanggung jawab pada sintesis dan sekresi hormone paratiroid atau parathormon (HPT).Di dalam keadaan aktif,retikulum endoplasmic sel-sel tersebut terlihat jelas dengan apparatus golgi yang padat,tempat pembuatan HTP dan siap untuk disekresikan.Clear cells kemungkinan juga chief cells yang berisikan glikogen yang tinggi.Oxyphil cells hanya Nampak dalam kelenjar paratiroid setelah pubertas dan jumlahnya bertambah pada pertambahan umur.Kelenjar paratiroid normal dewasa berisikan lemak.

Kadar kalsium ion darah yang rendah merangasang sekresi HPT,dan yang tinggi menekan sekresi HPT.Untuk perangsangan ataupun penekanan sekresi HPT,perubahan kadar kalsium ion darah sedikit saja sudah sangat mempengaruhi.

Bentuk Kelenjar Paratiroid
Kelenjar paratiroid kecil, kuning kecoklatan oval, biasanya terletak antara garis lobus posterior dari kelenjar tiroid dan kapsulnya. Ukurannya kira2 6x3x2 mm. Beratnya 50 mg. Biasanya 2 pada tiap sisi, superior dan inferior. Normalnya paratiroid posterior bergeser hanya pada kutub paratiroid posterior, tapi bisa juga turun bersama timus ke thorax atau pada bifurcation karotis. Kelenjar paratiroid superior letaknya lebih konstan daripada inferior dan biasanya terlihat di tengah garis posterior kelenjar tiroid walaupun bisa lebih tinggi. Bagian inferior sangat bervariasi pada beberapa situasi (tergantung perkembangan embriologisnya) dan bias tanpa selubung fascia tiroid, di bawah arteri tiroid, atau pada kelenjar tiroid dekat kutub inferior.

EFEK HORMON PARATIROID
Ion kalsium dan fosfat darah menggambarkan keseimbangan keluar masuknya ion-ion tersebut di tulang,traktus gastrointestinal,dan filtrasi di ginjal.Keseimbangan ion-ion tersebut diatur oleh HPT dan vitamin D3.Jika kalsium darah rendah,akan merangsang sekresi HPT dengan cepat dan terjadi kenaikan reabsorpsi kalsium di tubulus distalis ginjal dan loop henle asendens.HPT juga merangsang pembongkaran kalsium dari simpanannya di tulang.Kedua hal menyebabkan kearah kalsium darah menjadi normal.

HPT bekerja pada tulang dengan cara dua tingkat,yaitu: tingkat pertama memobilisasi kalsium dan fosfat secara cepat,daerah yang ada hubungan langsung dengan cairan ekstrasel.Tingkat kedua,memobilisasi kalsium sebagai akibat pembongkaran matriks tulang dan kemudian perubahan pembentukan tulang.Kerja utama HPT pada tulang,adalah menaikkan aktiitas osteoklas dan kemudian absorpsi tulang.Selanjutnya HPT merangsang pembentukan dan pembongkaran berjalan.

Saat kadar kalsium menurun, hormon paratiroid memastikan bahwa kalsium diambil dari tulang-tulang, kalsium di urin diserap kembali, dan kalsium yang ada dalam makanan diserap. Saat kadar kalsium di dalam darah terlalu tinggi, kalsitonin memastikan bahwa kalsium di dalam tulang dipertahankan dan tulang mempercepat penyerapan kalsium.

Fungsi umum kelenjar paratiroid adalah:
1. mengatur metabolisme fosfor
2. mengatur kadar kalsium darah
3. mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat oleh ginjal,mempunyai efek terhadap reabsoprsi tubuler dari kalsium dan sekresi fosfor
4. mempercepat absorpsi kalium di intestinal
5. jika pemasukan kalsium berkurang,hormone paratiroid menstimulir reabsorpsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah
6. dapat menstimulir transport kalsium dan fosfat melalui membrane dari mitokondria.

KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid, yang terletak tepat di bawah laring sebelah kanan dan kiri depan trakea, menyekresi tiroksin dan triyodotironin yang mempertahankan tingkat metabolisme di berbagai jaringan agar optimal sehingga mereka berfungsi normal. Hormon tiroid merangsang konsumsi O2 pada sebagian besar sel di tubuh, membantu mengatur metabolisme lemak dan karbohidrat, dan penting untuk pertumbuhan dan pematangan normal.

Kelenjar ini juga menyekresi kalsitonin, suatu hormon yang penting untuk metabolisme kalsium. Tidak adanya sekresi tiroid sama sekali biasanya menyebabkan laju metabolisme turun sekitar 40 persen di bawah normal, akibatnya perlambatan perkembanga mental dan fisik, berkurangnya daya tahan terhadap dingin, serta pada anak-anak timbul retardasi mental dan kecebolan (dwarfism). Sebaliknya, sekresi tiroksin yang berlebihan sekali dapat menyebabkan laju metabolisme basal meningkat setinggi 60 sampai 100 persen di atas normal, akibatnya badan menjadi kurus, gelisah, takikardia, tremor, dan kelebihan pembentukan panas.

Sekresi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (thyroid-stimulating hormon hormone = TSH = tirotropin) yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.

Pembentukan dan Sekresi Hormon Tiroid

Kimia
Hormon utama yang disekresi oleh tiroid adalah tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Kedua hormon adalah asam-asam amino yang mengandung iodium. Sejumlah kecil cadangan triiodotironin, monoiodotirosin, dan senyawa-senyawa lain juga ditemukan dalam darah vena tiroid. T3 lebih aktif daripada T4.

Tiroglobulin
T4 dan T3 disintesis di dalam koloid melalui iodinasi dan kondensasi molekul-molekul tirosin yang terikat pada linkage peptida dalam tiroglobulin. Jika Tiroid Stimulating Hormone (TSH) mengikat reseptor sel folikel, maka tiroglobulin ini disintesis dan disekresi oleh retikulum endoplasma dan kompleks golgi ke lumen folikel. Tiroglobulin merupakan glikoprotein yang terbentuk dari 2 submit dan memiliki berat molekul 660.000, mengandung karbohidrat 10% berat. Molekul ini juga mengandung 123 residu tirosin yang merupakan substrat utama yang berikatan dengan yodium untuk membentuk hormon tiroid, tetapi hanya 4-8 yang secara normal bergabung menjadi hormon tiroid. Tiroglobulin dibentuk oleh sel-sel tiroid (sel kelenjar khas yang menyekresi protein) dan dikeluarkan ke dalam koloid oleh eksositosis granula yang juga mengandung peroksidase tiroid. Hormon ini tetap terikat pada tiroglobulin sampai disekresikan.

Saat hormon tirosin akan disekresikan, permukaan apikal sel tiroid dalam keadaan normal mengeluarkan penonjolan seperti pseudopodi yang meliputi sebagian kecil koloid untuk membentuk vesikel pinositik. Kemudian lisosom segera bersatu dengan vesikel ini untuk membentuk vesikel digestif yang mengandung enzim-enzim pencernaan dari lisosom yang bercampur dengan koloid. Proteinase, yang merupakan salah satu enzim-enzim tersebut mencernakan molekul tiroglobulin serta melepaskan tiroksin dan triyodotironin, yang kemudian berdifusi melalui basis sel tiroid, ke dalam kapiler yang terdapat disekitarnya. Jadi, hormon tiroid dikeluarkan ke dalam darah. Distribusi dalam plasma terikat pada protein plasma Protein bound iodine (PBI).

Sebagian besar PBI T4 dan sebagian PBI T3 terikat pada protein jaringan yang bebas dalam keadaan seimbang. Dengan demikian, sel-sel tiroid memiliki fungsi: mengumpulkan dan memindahkan iodium; membentuk tiroglobulin dan mengeluarkannya ke dalam koloid; dan mengeluarkan hormon tiroid dari tiroglobulin dan mensekresikannya ke dalam sirkulasi. Setelah sintesis hormon tiroid berlangsung, setiap molekul tiroglobulin mengandung 5 sampai 6 molekul tiroksin, dan rata-rata satu molekul triyodotironin untuk setiap tiga sampai empat molekul tiroglobulin - sekitar 18 molekul tirosin untuk setiap satu molekul triyodotironin.

Tiroglobulin masuk ke dalam darah serta koloid. Konsentrasi tiroglobulin serum normal pada manusia adalah sekitar 6 ng/mL, dan kadar ini meningkat pada hipertiroidisme dan beberapa bentuk kanker tiroid.

Metabolisme Iodium
Iodium adalah bahan dasar yang penting untuk sintesis hormon tiroid. Iodium yang tertelan bersama makanan dibawa aliran darah dalam bentuk ion iodida (Iˉ), menuju kelenjar tiroid. Sel-sel folikular memisahkan iodida dari darah dan mengubahnya menjadi molekul (unsur) iodium (iodium teroksidasi), yang kemudian mampu berikatan langsung dengan asam amino tirosin. Oksidasi yodium ini dipermudah oleh enzim peroksidase dan hidrogen peroksida yang menyertai , yang bersama-sama menyelenggarakan sistem yang kuat, yamg mampu mengoksidasi iodida. Peroksidase terletak di dalam membrana apikal sel atau juga di dalam sitoplasma yang tepat berdekatan dengan membrana ini, jadi memberikan yodium yang telah dioksidasi pada titik yang tepat di dalam sel, di tempat mana molekul tiroglobulin pertama keluar dari kompleks golgi.

Molekul iodium bereaksi dengan tirosin dalam tiroglobulin untuk membentuk molekul monoiodotirosin dan diiodotirosin. Dua molekul diiodotirosin membentuk T4 (tiroksin), sedangkan satu molekul monoiiodotirosin dan satu molekul diiodotirosin membentuk T3 (triiodotironin). Pengikatan yodium dengan molekul tiroglobulin dinamai organifikasi tiroglobulin. Yodium yang telah dioksidasi dalam bentuk molekul akan terikat langsung tetapi perlahan-lahan dengan asam amino tirosin, tetapi bila yodium yang telah teroksidasi disertai dengan sistem enzim peroksidase, maka proses ini dapat terjadi dalam beberapa detik atau menit. Sehingga hampir sama cepat seperti pelepasan molekul tiroglobulin dari alat Golgi atau secepat ia disekresi melalui membrana sel apikal ke dalam folikel, yodium terikat dengan sekitar seperenam sisa tirosin di dalam molekul tiroglobulin.

Asupan iodium harian minimum yang dapat mempertahankan fungsi tiroid normal adalah 150 µg pada orang dewasa, tetapi di AS asupan makanan rata-rata adalah sekitar 500 µg/h. Kadar I ˉ plasma normal adalah sekitar 0,3 µg/dL, dan I ˉ disebarkan dalam suatu “ruang” sekitar 25L (35% berat tubuh).

Pengambilan Iodium
Kelenjar tiroid mengkonsentratkan iodium dengan transpor aktif iodium dari cairan ekstrasel ke sel kelenjar tiroid dan kemudian ke folikel. Mekanisme transport sering disebut “iodide-trapping mechanism” atau “pompa iodida”. Sel-sel tirod bermuatan 50 mV relatif negatif terhadap daerah interstitium dan koloid; yaitu sel memiliki potensial membran istirahat sebesar -50 mV. Iodida dipompa ke dalam sel pada dasarnya melawan gradien listrik ini, lalu berdifusi mengikuti gradien listrik ke dalam koloid. Mekanisme transpor aktif iodida dirangsang oleh TSH. Mekanisme ini juga bergantung pada Na, K, ATPase.

Hubungan fungsi tiroid dan iodida bersifat unik, karena iodida penting untuk fungsi tiroid normal, tetapi baik defisiensi maupun kelebihan iodida menghambat fungsi tiroid. Pada kelenjar normal, pompa iodida dapat memekatkan ion iodida sekitar 40 kali konsentrasi iodida dalam darah. Akan tetapi, bila kelenjar tiroid menjadi aktif sepenuhnya, rasio konsentrasi dapat meningkat sampai beberapa kali nilai ini.

Sintesis Hormon Tiroid

Di dalam kelenjar tiroid, iodide mengalami oksidasi menjadi iodium dan dalam beberapa detik berikatan ke posisi tiga molekul tirosin yang melakat ke tiroglobulin. Enzim yang berperan dalam oksidasi dan pengikatan iodide adalah tiroid peroksidase. Monoiodotirosin (MIT) kemudian mengalami iodinasi di posisi 5 untuk membentuk diidotirosin (DIT). Dua molekul DIT kemudian mengalami suatu kondensasi oksidatif membentuk T4 dengan pengeluaran rantai sisi alanin dari molekul yang membentuk cincin luar. Setelah sintesis hormone tiroid berlangsung, setiap molekul tiroglobulin mengandung 5 sampai 6 molekul tirosin, dan rata-rata satu molekul triodotironin untuk setiaap 3 sampai 4 molekul tiroglobulin, sekitar 18 molekul tiroksin untuk setiap satu molekul triodotironin. Dalam bentuk ini hormone tiroid sering disimpan dalam folikel selama beberapa bulan. Ternyata, jumlah total yang disimpan cukup untuk mensuplai tubuh dengan kebutuhan normal akan hormone tiroid selama 1 sampai 3 bulan. Oleh karena itu, walaupun sintesis hormone tiroid berhenti seluruhnya, efek defisiensi mungkin tidak ditemukan selama berbulan-bulan.

Transpor Hormon Tiroid
Kadar T4 plasma total normal adalah sekitar 8 µg/dL (103 nmol/L), dan kadar T3 plasma adalah sekitar 0,15 µg/dL (2,3nmol/L). sebagian besar keduanya terikat pada protein plasma. Hormon tiroid bebas dalam plasma berada Dallam keseimbangan hormone tiroid yang terikat pada protein plasma dan jaringan. Hormone tiroid bebas ditambahkan pada cadangan sirkulasi oleh kelenjar tiroid. Hormone tiroid bebas dalam plasma adalah yang secara fisiologis aktif dan menghambat sekresi TSH oleh hipofisis. Fungsi pengikatan protein adalah untuk mempertahankan cadangan hormone yang siap dibebaskan dalam jumlah besar. Selain itu, paling tidak untuk T3, pengikatan hormone mencegah pengambilan berlebihan oleh sel pertama yang dijumpai dan meningkatkan distribusi jaringan yang merata.

Protein plasma yang mengikat hormone tiroid adalah albumin dan globulin. Albumin memiliki kapaitas terbesar untuk mengikat T4 , protein ini dapat mengikat T4 paling banyak sebelum menjadi jenuh. Namun, afinitas (aviditas ikatan protein dengan T4 pada keadaan fisiologis) protein terhadap T4 adalah sedemikian, sehingga sebagian besar T4 dalam sirkulasi terikat pada globulin, dengan lebih dari sepertiga tempat ikatan pada protein ditempati. T4 dalam jumlah yang lebih kecil terikat pada albumin.

Secara normal 99,98% T4 dalam plasma terikat , kadar T4 bebas hanya sekitar 2 ng/dL. Hanya terdapat sedikit T4 dalam urin. T3 tidak terlalu terikat, dari 0,15 µg/dL yang secarra normal terdapat dalam plasma, 0,2% (0,3 ng/dL) berada dalam keadaan bebas. Sisa 99,8% terikat pada protein, 46% pada globulin dan sebagian besar sisanya pada albumin.

Bila terjadi peningkatan konsentrasi protein pengikat tiroid dalam plasma yang mendadak dan menetap, maka konsentrasi bebas menurun. Namun perubahan ini sementara karena penurunan konsentrasi hormone tiroid bebas dalam sirkulasi akan merangsan sekresi TSH, yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan pembentukan hormone tiroid bebas. Akhirnya akan tercapai keseimbangan baru dimana kuantitas total hormone tiroid meningkat tetapi konsentrasi hormone bebas, kecepatan metabolismenya keccepatan sekresi TSHnya normal.

Metabolisme Hormon Tiroid
T4 dan T3 mengalami deiodinasi di hati, ginjal dan banyak jaringan lain. Pada orang dewasa normal sepertiga T4 dalam darah secra normal diubah menjadi T3 dan 45% diubah menjadi reverse triiodotironin ( RT3). Hanya 13% T3 dalam darah disekresi oleh kelenjar tiroid dan 87% dibentuk melalui deiodinasi T4, demikian juga hanya 5% RT3 dalam darah disekresi oleh kelenjar tiroid dan 95% dibentuk dari deiodinasi T4. Dua enzim yang berbeda berperan disini, 5’deiodinase mengkatalis pembentukan T3 dan 5 deiodinase mengkatalis pembentukan T3 dan RT3 diubah menjadi berbagai diiodotironin.

Di hati T4 dan T3 mengalami konjugasi dan membentuk sulfat serta glukuronida. Konjugat-konjugat ini masuk ke dalam empedu lalu ke usus. Konjugat tiroid mengalami hidrolisis dan sebagian diserap kembali, tetapi sebagian diekskresi melalui tinja. Selain itu, sebagian T4 dan T3 berpindah langsung dari sirkulasi ke lumen usus.

Sekresi Hormon Tiroid

Sekresi hormone tiroid terangsang oleh TSH, dan TSH sendiri sekresinya terangsang oleh TRH. Hormone tiroid bebas menghambat sekresi TSH baik langsung maupun tidak langsung. Sekresi TSH dapat dihambat oleh stress, kemungkinan melalui penghambatan glukokortikoid paada sekresi TRH. Pada bayi sekresi TSH naik akibat rangsangan dingin dan terhambat akibat rangsangan panas. Sewaktu disekresi, koloid diambil oleh sel-sel tiroid, ikatan peptida mengalami hidrolisis dengan bantuan enzim proteolitik, dan T3 serta T4 bebas dilepaskan ke dalam peredaran darah

Efek Hormon Tiroid
· Menaikkan aktivitas membran dalam ikatan ion-ion natrium kalium ATPase
· Menaikkan produksi panas
· Merangsang pemakaian oksigen (kalorigenesis)
· Merangsang sekresi Growth Hormone
· Memperkuat efek Growth Hormone
· Mempengaruhi sel-sel saraf dan perkembangan mental pada anak balita dan janin
· Membantu regulasi metabolisme lipid
· Menaikkan absorpsi dan neropinefrin

Fungsi Hormon Tiroid
1. Mempengaruhi pertumbuhan dan maturasi (pematangan) jaringan tubuh, serta penggunaan energy total
2. Mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan mempengaruhi beberapa reaksi metabolic dalam tubuh
3. Menambah sintesis Ribonukleat Acid (RNA) dan protein suatu aksi yang mendahului meningginya basal metabolism
4. Dalam konsentrasi tinggi, keseimbangan nitrogen negative dan sintesis protein berkurang
5. Menambah produksi panas dan menyimpan energy yang didapatkan pada konsentrasi hormone tiroid yang tinggi
6. Absorpsi glukosa di intestinal bertambah lancar oleh hormon tiroid sehingga memungkinkan factor toleransi glukosa yang abnormal sering ditemukan pada hipertiroidisme

KELENJAR TIMUS



Kelenjar timus terletak dibagian posterior toraks terhadap sternum dan melapisi bagian atas jantung, berwarna kemerah-merahan dan terdiri atas 2 lobus . Kelenjar timus dapat dijumpai pada anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Pada bayi yang baru lahir ukurannya sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram.



Kelenjar timus berkembang sampai masa pubertas, dan setelah itu ia akan menyusut atau digantikan oleh jaringan lemak . Kelenjar timus normalnya berfungsi secara efektif sepanjang umur manusia, namun fungsinya menurun seiring usia. Akibatnya, insiden penyakit autoimun dan pertumbuhan sel-sel ganas meningkat. Tetapi sejumlah nukleoprotein (asam timonukleat) mengambil alih beberapa fungsi timus. Selain itu kelenjar timus berinteraksi dengan gonad dalam mempengaruhi pertumbuhan tubuh. Perkembangan seluruh sistem limfatik diputuskan dan diatur oleh kelenjar timus. Kemudian kelenjar Timus bersama-sama dengan sumsum tulang adalah organ imunitas yang utama. Hormon yang dihasilkan kelenjar ini meliputi enam peptide yang secara kolektif disebut dengan Timosin.

Kelenjar Timus penting peranannya dalam sistem imun spesifik seluler, karena di dalam timus terjadi diferensiasi dan proliferasi dari sel T atau limfosit T. Dengan demikian involusi dari kelenjar timus akan menyebabkan penurunan dari sel T, diantaranya adalah sel T CD4+ (sel T helper 1 [Th1] dan sel T helper 2 [Th2]).

Kelejar timus melakukan pengolahan terhadap limfosit T
Limfosit-T sering kali dinamakan sesuai dengan molekul pada permukaannya. Limfosit-T CD4 adalah sel T dari sistem kekebalan yang mempunyai molekul CD4 pada permukaannya sedangkan limfosit-T CD8 mempunyai molekul CD8. Kedua sel ini memiliki reseptor pada permukaannya. Masing-masing memiliki sekitar 10.000 atau lebih tiruan molekul reseptor antigen tertentu pada permukaan selnya.

Perkembangan limfosit T dari sel induk yang ada di sum-sum tulang belakang juga melalui kelenjar timus. Sekitar 3% akan bermigrasi ke timus sebelum melanjutkan perjalanan ke sirkulasi darah. Sisanya yang ada di kelenjar timus akan di didik untuk mengenali antara antigen-antigen ‘diri’ (self) dan asing.

Subkelompok dari limfosit T akan terus terbentuk melalui kontak dengan timosit (hormon timus), misalnya sel-sel T-helper. Jika perlu (aksi defensif) produk ini akan memproduksi imunoglobin yang spesifik melawan agen-agen asing.

Limfosit sel B tidak akan sanggup mengubah diri mereka menjadi immunoglobulin yang memproduksi sel-sel plasma jika tidak ada sel-sel T-helper atau faktor timus. Sel-sel T-supresor memiliki efek penghambat pada limfosit-limfosit sehingga tidak telalu banyak antibodi yang terbentuk.

Artinya tiap satu limfosit membentuk reaktivitas yang spesifik untuk melawan antigen. Kemudian limfosit berikutnya membentuk spesifitas melawan antigen yang lain. Hal ini terus berlangsung sampai terdapat bermacam-macam limfosit timus dengan reaktivitas spesifik untuk melawan jutaan antigen yang berbeda-beda. Miliaran jenis sel terjadi karena miliaran variasi reseptor sel T. Variasi ini terjadi ketika sel dibentuk (biasanya pada permulaan kehidupan, di dalam rahim atau pada bayi). Sel T berawal sebagai sel batang yang tidak berdiferensiasi dan mampu berkembang dewasa menjadi bermacam-macam sel darah. Sel batang tertentu dirancang oleh kelenjar timus untuk menjadi sel T, ketika hal itu terjadi, gen tertentu dari sel tersebut akan bergabung secara acak, membentuk banyak kombinasi yang berbeda. Berbagai tipe limfosit T yang ada di proses tersebut sekarang meninggalakan timus dan menyebar keseluruh tubuh untuk memenuhi jaringa limfoid disetiap tempat.

Fungsi Hormon Timosin
* Mengendalikan perkembangan sistem imun dependen timus dengan menstimulasi diferensiasi dan sel limfosit T
* Timosin berperan dalam penyakit immunodefisiensi kongenital seperti α gamma globulinemia , yaitu ketidakmampuan total untuk memproduksi antibodi.

Fungsi kelenjar timuS
1. suatu sumber sel yang mempunyai kemampuan imunologis
2. sumber hormone timik yang mempersiapkan proliferasi dan maturasi sel-sel yang mempunyai kemampuan potensial imunologis dalam banyak jaringan lain
3. mengaktifkan pertumbuhan badan sehingga pertumbuhan sangat meningkat pada masa bayi sampai remaja dan setelah dewasa pertumbuhan akan berkurang
4. mengurangi aktivitas kelamin.

SISTEM ENDOKRIN


Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin (Jimmy Wales, 2008). 

Organ utama dari sistem endokrin adalah:
-Hipotalamus
-Kelenjar hipofisa
-Kelenjar tiroid
-Kelenjar paratiroid
-Pulau-pulau pankreas
-Kelenjar adrenal
-Buah zakar
-Indung telur.
Selama kehamilan, plasenta juga bertindak sebagai suatu kelenjar endokrin.

Pada sistem endokrin II akan dibahas mengenai kelenjar pankreas, kelenjar adrenal, dan kelenjar gonad sebagai sistem endokrin. Adapun kelenjar pankreas menghasilkan hormon antara lain : insulin, glukagon, somatostatin, dan polipeptida pankreas. Pada kelenjar adrenal, medula menghasilkan hormon epinefrin dan norepinefrin, sedangkan korteks menghasilkan hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron. Pada kelenjar gonad, testis menghasilkan hormon testosteron dan pada ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.

KELENJAR PANKREAS

Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki fungsi utama yakni untuk menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin dan glukagon. Pankreas juga mengsekresikan hormon somatostatin, dan polipeptida pankreas.

Kelenjar pankreas terletak pada bagian belakang lambung dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau Langerhans. Dinamakan Langerhans atas penemunya, Paul Langerhans pada tahun 1869. Setiap pulau berisikan sel beta yang berfungsi mengeluarkan hormon insulin. Dimana hormon insulin memegang peran penting dalam mengatur kadar glukosa darah.

Tiap pankreas mengandung lebih kurang 100.000 pulau Langerhans dan tiap pulau berisi 100 sel beta. Disamping sel beta ada juga sel alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari insulin yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang mengeluarkan somatostatin dan sel PP yang mengsekresi hormon polipeptida pankreas.

A. INSULIN
Sintesis Insulin
1. Insulin disintesis oleh sel-sel beta, terutama ditranslasikan ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma (mirip sintesis protein) dan menghasilkan praprohormon insulin dengan berat molekul sekitar 11.500. 

2. Kemudian praprohormon diarahkan oleh rangkaian “pemandu” yang bersifat hidrofibik dan mengandung 23 asam amino ke dalam sisterna retikulum endoplasma.

3. Di retikulum endoplasma, praprohormon ini dirubah menjadi proinsulin dengan berat molekul kira-kira 9000 dan dikeluarkan dari retikulum endoplasma.

4. Molekul proinsulin diangkut ke aparatus golgi, di sini proteolisis serta pengemasan ke dalam granul sekretorik dimulai. 

5. Di aparatus golgi, proinsulin yang semua tersusun oleh rantai B—peptida (C) penghubung—rantai A, akan dipisahkan oleh enzim mirip tripsin dan enzim mirip karboksipeptidase.

6. Pemisahan itu akan menghasilkan insulin heterodimer (AB) dan C peptida. Peptida-C dengan jumlah ekuimolar tetap terdapat dalam granul, tetapi tidak mempunyai aktivitas biologik yang diketahui.

Bisa dapat disimpulkan bahwa : Sintesis insulin dimulai dalam bentuk preproinsulin (precursor hormon insulin) pada retikulum endoplasma sel beta. Dengan bantuan enzim peptidase, preproinsulin mengalami pemecahan sehingga terbentuk proinsulin, yang kemudian dihimpun dalam gelembung-gelembung (secretory vesicles) dalam sel tersebut. Di sini, sekali lagi dengan bantuan enzim peptidase, proinsulin diurai menjadi insulin dan peptida-C (C-peptide) yang keduanya sudah siap untuk disekresikan secara bersamaan melalui membran sel.


Sekresi Insulin
Sekresi insulin merupakan proses yang memerlukan energi dengan melibatkan sistem mikrotubulus-mikrofilamen dalam sel B pada pulau Lengerhans. Sejumlah intermediet turut membantu pelepasan insulin.

• Glukosa: apabila kadar glukosa darah melewati ambang batas normal—yaitu 80-100 mg/dL–maka insulin akan dikeluarkan dan akan mencapai kerja maksimal pada kadar glukosa 300-500 mg/dL.
• Faktor Hormonal: ada beberapa hormon yang meningkatkan insulin dalam darah, yaitu epinefrin (meningkatkan cAMP intrasel), kortisol, laktogen plesenta, esterogen dan progestatin.
• Prefarat Farmakologi: banyak obat merangsang sekresi insulin, tetapi preparat yang digunakan paling sering untuk terapi diabetes pada manusia adalah senyawa sulfaonilurea.

Kerja dan Metabolisme Insulin
Insulin merupakan hormon yang berfungsi sebagai second messenger yang merangsang dengan potensial listrik. Beberapa peristiwa yang terjadi setelah insulin berikatan dengan reseptor membran:
• Terjadi perubahan bentuk reseptor.
• Reseptor akan berikatan silang dan membentuk mikroagregat.
• Reseptor diinternalisasi.
• Dihasilkan satu atau lebih sinyal. Setelah peristiwa tersebut, glukosa akan masuk ke dalam sel dan membentuk glikogen.

Insulin yang telah terpakai maupun yang tidak terpakai, akan dimetabolisme. Ada dua mekanisme untuk metabolisme insulin:
1. Melibatkan enzim protese spesifik-insulin yang terdapat pada banyak jaringan, tetapi banyak terdapat pada hati, ginjal, dan plasenta.
2. Melibatkan enzim hepatik glutation-insulin transhidrogenase, yang mereduksi ikatan disulfida, dan kemudian rantai A dan B masing-masing diuraikan dengan cepat.
Fungsi Insulin: stimulasi glikogenesis, lipogenesis, dan sintesis protein.

EFEK INSULIN PADA METABOLISME KARBOHIDRAT
Setelah memakan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, glukosa akan masuk ke dalam darah dan menyebabkan pengeluaran insulin secara cepat. Insulin menyebabkan pengambilan, penyimpanan, dan penggunaan glukosa pada hampir semua jaringan khususnya pada otot, jaringan adiposa, dan liver.

EFEK INSULIN PADA METABOLISME LIPID
Merangsang lipogenesis, menghambat lipolisis di hati dan jaringan adiposa, dengan cara menghambat aktifitas enzim lipase. Karena itu insulin menurunkan kadar asam lemak bebas yang beredar dalam darah. Selain itu insulin juga mempengaruhi kadar kolestrol.

EFEK INSULIN PADA METABOLISME PROTEIN
Insulin merangsang sintesis protein dan memperlambat penguraian protein. Insulin juga menstimulasi asam amino yang diambil dari otot. 

B. GLUKAGON



Glukagon adalah antagonis dari insulin, yang tersusun atas 29 asam amino. Pada prinsipnya menaikkan kadar gula di dalam darah. Enzim ini diproduksi di sel A dari pankreas. Glukagon melewati dalam proses sintesisnya yang disebut sebagai limited proteolyse, yang artinya molekul glukagon berasal dari prohormon. Gen untuk glukagon selain di pankreas juga terdapat di otak dan sel enteroendokrin L di sistem pencernaan (Ileum dan Kolon).
Glukagon merupakan hasil dari sel-sel alfa, yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologis meningkatkan kadar glukosa darah. Glukagon melakukan hal ini dengan mempercepat konversi dari glikogen dalam hati dari nutrisi-nutrisi lain, seperti asam amino, gliserol, dan asam laktat, menjadi glukosa (glukoneogenesis). Kemudian hati mengeluarkan glukosa ke dalam darah, dan kadar gula darah meningkat. Sekresi dari glukagon secara langsung dikontrol oleh kadar gula darah melalui sistem feed-back negative. Ketika kadar gula darah menurun sampai di bawah normal, sensor-sensor kimia dalam sel-sel alfa dari pulau Langerhans merangsang sel-sel untuk mensekresikan glukagon. Ketika gula darah meningkat, tidak lama lagi sel-sel akan dirangsang dan produksinya diperlambat. Jika untuk beberapa alasan perlengkapan regulasi diri gagal dan sel-sel alfa mensekresikan glukagon secara berkelanjutan, hiperglikemia (kadar gula darah yang tinggi) bisa terjadi. Olahraga dan konsumsi makanan yang mengandung protein bisa meningkatkan kadar asam amino darah juga menyebabkan peningkatan sekresi glukagon. Sekresi glukagon dihambat oleh GHIH (somatostatin). Glukagon kehilangan aktivitas biologiknya apabila diperfusi melewati hati atau apabila diinkubasi dengan ekstrak hati, ginjal atau otot. Glukagon juga diinaktifkan oleh inkubasi dengan darah. Indikasinya ialah bahwa glukagon dihancurkan oleh sistem enzim yang sama dengan sistem yang menghancurkan insulin dan protein-protein lain.

Regulasi
• Stimulus untuk sekresi dari glukagon adalah hipoglikemia atau jika konsentrasi asam amino turun di dalam darah setelah konsumsi makanan yang kaya protein. Walaupun begitu konsumsi makanan yang kaya mengandung protein tidak hanya menstimulasi pengeluaran hormon glukagon tetapi juga hormon insulin. Transmitter Hormon sistem saraf autonom seperti asetilkolin dan adrenalin lewat ß2 reseptor juga menstimulasi pengeluaran hormon glukagon. Selain itu juga sederetan hormon berikut yang diciptakan di sistem pencernaan gastrin, CCK, GIP, dan GH.
• Inhibitor atau yang menghambat sekresi glukagon adalah hiperglikemia atau jika konsentrasi gula darah naik. Selanjutnya juga hormon insulin yang antagonisnya, somatostatin, GLP-1, GABA, sekretin, dan waktu makan yang kaya kandungan karbohidrat.
Fungsi Glukagon: melawan kerja insulin (stimulasi glikogenolisis dan lipolisis), stimulasi glukoneogenik.

C. SOMATOSTATIN
Somatostatin dijumpai di sel D pulau langerhans pankreas. Somatostatin menghambat sekresi insulin, glukagon, dan polipeptida pankreas dan mungkin bekerja lokal di dalam pulau-pulau pankreas. Penderita tumor pankreas somatostatin mengalami hiperglikemia dan gejala-gejala diabetes lain yang menghilang setelah tumor diangkat. Para pasien tersebut juga mengalami dispepsia akibat lambatnya pengosongan lambung dan penurunan sekresi asam lambung, dan batu empedu, yang tercetus oleh penurunan kontraksi kandung empedu. Sekresi somatostatin pankreas meningkat oleh beberapa rangsangan yang juga merangsang sekresi insulin, yakni glukosa dan asam amino, terutama arginin dan leusin. Sekresi juga ditingkatkan oleh CCK. Somatostatin dikeluarkan dari pankreas dan saluran cerna ke dalam darah perifer.

D. POLIPEPTIDA PANKREAS
Polipeptida pankreas manusia merupakan suatu polipeptida linear yang dibentuk oleh sel F pulau langerhans. Hormon ini berkaitan erat dengan polipeptida YY (PYY), yang ditemukan di usus dan mungkin hormon saluran cerna; dan neuropeptida Y, yang ditemukan di otak dan sistem saraf otonom. 

Sekresi polipeptida ini meningkat oleh makanan yang mengandung protein, puasa, olahraga, dan hipoglikemia akut. Sekresinya menurun oleh somatostatin dan glukosa intravena. Pemberian infus leusin, arginin, dan alanin tidak mempengaruhinya, sehingga efek stimulasi makanan berprotein mungkin diperantarai secara tidak langsung. Pada manusia, polipeptida pankreas memperlambat penyerapan makanan, dan hormon ini mungkin memperkecil fluktuasi dalam penyerapan. Namun, fungsi faal sebenarnya masih belum diketahui.

KELENJAR SUPRARENALIS/ADRENAL
Kelenjar suprarenal/adrenal terbagi menjadi dua bagian:
1. Medula: Menghasilkan dan mensekresi adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin). Secara embriologik berasal dari jenis neurocektodermis sama (sisa-sisa sel krista saraf) yang menjadi asal neuron simpati
2. Korteks: Beberapa hormon terpenting yang disekresikan oleh kortex adrenal adalah hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron, yang semuanya bertalian erat dengan metabolisme pertumbuhan, fungsi ginjal, dan tonus otot. Semua fungsi ini menentukan jalan hidup. Korteks terbagi menjadi tiga lapisan, dari luar ke dalam, yaitu zona glomerurulosa, zona fasikulata, dan zona retikulari.

Zat-zat tadi disekrsikan dibawah pengendalian sistem persyarafan simpatis. Sekresinya bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan takut, dan dalam keadaan asfixia dan kelaparan. Pengeluaran yang bertambah itu menaikkan tekanan darah guna melawan shock yang disebabkan kegentingan ini.

Noradrenalin menaikkan tekanan darah dengan jalan merangsang serabut otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi. Adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati. 

Fungsi kelenjar suprarenalis (medula):
 Vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
 Relaksasi bronkus.
 Kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi perdarahan pada operasi kecil.

Fungsi kelenjar sprarenalis ( korteks):
 Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam.
 Mengatur atau mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein.
 Mempengaruhi aktifitas jaringan limfoid.

HORMON KELENJAR ADRENAL

1. Hormon medular disekresi oleh sel-sel kromafin medulla adrenal untuk merespon stimulus preganglionik simpatis. Hormon ini meliputi kotekolamin, seperti: epinefrin (80%), norepinefrin (20%).

Epinefrin dan norepinefrin memiliki perbedaan efek fisiologis yang berkaitan dengan kedua jenis reseptornya, alfa (α) dan beta (β), yang terletak pada membran sel target.

Katekolamin mengatur lintasan metabolic untuk meningkatkan katabolisme bahan bakar yang tersimpan sehingga kebutuhan kalori dari sumber-sumber endogen terpenuhi. Secara keseluruhan fungsi hormon ini adalah untuk mempersiapkan tubuh terhadap aktivitas fisik yang merespon stess, kegembiraan, cedera, latihan dan pernurunan kadar gula darah.

1) Efek epinefrin
a) Frekuensi jantung, metabolisme, dan konsumsi oksigen meningkat.
b) Katekolamin juga menyebabkan pelepasan asam-asam lemak bebas, meningkatkan kecepatan metabolic basal (BMR) dan menaikkan kadar glukosa darah melalui stimulasi glikogenolisis pada hati dan simpanan glikogen otot.
c) Pembuluh darah pada kulit dan organ-organ viseral berkonstriksi sementara pembuluh di otot rangka dan otot jantung berdilatasi.
d) Dalam pankreas menghalangi pelepasan insulin menghindari pelepasan glukosa.
e) Mobilisasi glukosa dengan menambah glikogenesis.

2) Efek norepinefrin adalah untuk meningkatkan tekanan darah dan untukmenstimulasi otot jantung.

Pengaturan sekresi kotekolamin
Perangsangan sistem saraf simpatis melepaskan noradrenalin dan adrenalin dari kelenjar adrenal. Pada keadaan tertentu dapat merangsang pelepasan kotekolamin dari medula adrenal (keadaan darurat) dengan gejala:
o Marah, dingin, dan rasa takut.
o Keadaan glukosa plasma rendah (hipoglikemia).
o Tekan darah rendah (hipotensi).
o Anoksia otak (kekurangan oksigen di otak).
o Asfiksia.
o Meningkatkan kadar angiotensin.

Efek katekolamin berupa penggiatan reseptor beta, meningkatkan siklik AMP yang menimbulkan pengaruh inhibisi (menhambat proses pada sel yang bersangkutan) kecuali otot jantung, dan meningkatkan senyawa atom:
 Meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
 Meningkatkan glikogenesis (gula darah).
 Meningkatkan metabolisme oksidatif glukosa di dalam sel.
 Meningkatkan pembentukan energy dan panas.

2. Hormon kortikal adrenal

A. Mineralokortikoid disentesis dalam zona glomerulosa.
Meningkatkan retensi ekskresi ion K di ginjal (tubulus distal dan tubulus koligentes), meningkatkan retensi Na di kelenjar keringat dan saluran pencernaan. Pada ginjal aldosteron meningkat.
1) Aldosteron, mineralokortikoid terpenting, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah.
2) Kendali sekresi. Sekresi aldosteron diatur oleh kadar natrium darah, tetapi terutama oleh mekanisme renin-angiotensin.

Dikenal empat factor yang memainkan peranan dalam pengaturan aldosterone, yaitu :
1. Peningkatan konsentrasi kalium meningkatkan sekresi aldosteron.
2. Peningkatan aktivitas rennin-angiotensin meningkatkan sekresi aldosteron juga.
3. Peningkatan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraselular sangat sedikit menurunkan sekresi aldosteron.
4. Hormon adrenokortikotropon (ACTH) dari kelenjar hipofisis anterior diperlukan untuk sekresi aldosterone tetapi mempunyai efek yang kecil dalam mengatur kecepetan sekresi.

Dari factor-faktor di atas, yang paling memegang peranan yaitu konsentrasi kalium dan aktivasi dari rennin-angiotensin. Peningkatan konsentrasi kalium yang rendah dapat menyebabkan beberapa kali peningkatan aldosterone beberapa kali. Dan juga aktivasi dari system rennin-angiotensin, biasanya sebagai efek dari berkurangnya aliran darah ke ginjal, dapat menyebabkan peningkatan sekresi aldosterone yang besar. 

Selanjutnya, aldosterone akan bekerja di ginjal dengan :
a. Membantu ginjal mengeluarkan kelebihan ion kalium
b. Meningkatkan volume darah dan tekanan arteri, jadi mengembalikan system Renin-angiotensin dalam keadaan normal

Pengaturan mineralokortikoid:
• Rennin-angiotensin, merangsang sel-sel zona glomerulus korteks adrenal untuk melepaskan aldosteron, meningkatkan retensi Na, Cl dan air.
• Kadar ion Na, K, dan plasma. Apabila ion Na plasma turun dan ion K plasma naik, maka sekresi aldosteron meningkatkan.
• ACTH dalam dosis yang kecil. Perannya sangat kecil hanya dalam konsentrasi yang tinggi merangsang pelepasan aldosteron.

Efek mineralkortikoid:
• Efek ginjal dan sirkulasi dari aldosteron
 Aldosteron menyebabkan pengangkutan pertukaran natrium dan kalium yakni absorbsi natrium bersama – sama dengan ekskresi kalium oleh sel – sel epitel tubulus terutama dalam tubulus distal dan duktus koligentes
 Meningkatkan jumlah total natrium dalam cairan ekstraseluler sementara menurunkan jumlah kalium.
 Karena natrium dalam ciran ekstraselular banyak maka berpengaruh juga terhadap kandungan air dalam cairan ekatraselular dan menyebabkan peningkatan tekanan darah.
 Aldosteron sebaliknya menyebabkan sekresi ion hidrogen yang ditukr dengan natrium di tubulus sehingga mengakibatkan alkalosis ringan. 

• Efek aldosteron pada kelenjar keringat, kelenjar liur, dan absorpsi intestinal
 Efek aldosteron terhadap kelenjar keringat penting untuk menyimpan garam tubuh dalam lingkungan yang panas.
 Efek aldosteron terhadap kelenjar liur adalah menyimpan garam sewaktu liur hilang secara berlebihan.
 Aldosteron meningkatkan absorsi natrium oleh usus terutama di dalam kolon yang mencegah hilangnya natrium di dalam tinja.

• Efek pada hormon kelamin
 Androgen, terutama ketosteroid dehidroepialdosteron: maskulinisasi meningkatkan anabolisme protein dan merangsang pertumbuhan.
 Estrogen pada keadaan fisiologis tidak mempunyai efek feminisasi.

B. Glukokortikoid disintesis dalam zona fasikulata.
Hormon ini meliputi kortikosteron, kortisol, dan kortison. Hormon yang terpenting adalah kortisol.
1) Efek fisiologis
a) Glukortiroid mempengaruhi metabolisme gluksosa, protein
dan lemak untuk membentuk cadangan molekul yang siap dimetabolis.
b) Hormon ini meningkatkan sintesis glukosa, simpanan glikogen di hati (glikogenesis), dan
peningkatan kadar glukosa darah, pengurain lemak dan protein serta menghambat pengambilan asam amino dan sintesis protein.
c) Hormon ini juga Menstabilisi membran lisosom untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.

2) Fungsi
a) Meningkatkan kegiatan metabolisme berbagai zat dalam tubuh.
 Meningkatkan glikogenesis dan glukogenesis dalam sel hati.
 Menningkatkan metabolisme protein terutama di otot dan tulang.
 Meningkatkan sintesis DNA dan RNA dalam sel hati.
 Menahan ion Na dan ion Cl, meningkatkan sekresi ion K di ginjal.
 Meningkatkan lipolisis dan jaringan perifer, deposit lemak.
b) Menurunkan ambang rangsang susunan saraf pusat.
c) Menggiatkan sekresi asam lambung.
d) Menguatkan efek noradrenalin terhadap pembuluh dan merendahkan permeabilitas dinding pembuluh darah.
e) Menurunkan daya tahan terhadap infeksi dan menghambat pembentukan antibodi.
f) Menghambat pelepasan histamine dalam reaksi alergi

3) Kendali sekresi glukokortikoid adalah melalui kerja ACTH dalam mekanisme umpan balik negatif. Stimulus pertama dari ACTH adalah semua jenis stres fisik atau emosional.
 Stres (misalnya, trauma, infeksi, atau kerusakan jaringan) akan memicu impuls saraf ke hipotalamus).
 Hipotalamus kemudian mensekresi hormon pelepas kortikotropin (cortcotropin-releasing hormon {CRH}), yang melewati sistem portal hipotalamus-hipofisis menuju kelenjar pituitari anterior, yang melepas ACTH.
 ACTH bersikulasi dalam darah menuju kelenjar adrenal dan mengeluarkan sekresi glukokortikoid.
 Glukokortikoid mengakibatkan peningkatkan persediaan asam amino, lemak, dan glukosa dalam darah untuk membantu memperbaiki kerusakan yang disebabkan stres dan menstabilkan membran lisosom untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

C. Gonadokortikoid (steroid kelamin) disintesis pada zona retikularis dalam jumlah yang relatif sedikit. Steroid ini berfungsi terutama sebagai prekursor untuk pengubahan testosteron dan estrogen oleh jaringan lain.

Efek androgen:
Merupakan hormon kelamin yang berpengaruh besar pada hormon kelamin pria, mengatur libido dan perkembangan alat kelamin.